08 Februari 2009
Hair style?
Yupz, seperti judul di atas. Lagi pengen ngerubah gaya rambut! Saat ini rambut udah panjang dikit melewati bahu. Pengen di model lain biar kelihatan lebih seger. Pengen nge-warnai rambut juga. Tapi lagi bingung banget! Enaknya warna coklat atau ungu ya? Tadinya jatuh cinta sama purple brown. Tapi cocok nggak ya? Polos atau pake highlight? Bingung... Bingung.. Konsultasi sama siapa dong? Lihat di internet kayaknya nggak ada model yang mukanya mirip denganku. Hahaha...
09 Desember 2008
Today's shout out
Jangan pernah menyama-ratakan standar seseorang dengan standar-mu. Aku menyebutnya picik.
Jangan berkata bahwa mereka itu begini, mereka itu begitu, dengan pandangan tidak setuju, hanya karena mereka berbeda denganmu. Aku menyebut itu prasangka.
Setiap budaya punya aturan berbeda, begitu pun negara, keluarga, dan individu. Jika berharap semuanya sama dengan standar-mu, aku menyebutnya naif.
Maaf aku tersinggung, ketika kau bilang aku -yang tidak pakai bahasa krama ke ibuku sendiri- kau bilang kebacut.
Maaf hatiku terluka, dan aku memberontak demi mendengar kata-kata mu.
Kau toh tidak tahu, keakraban macam apa yang terjalin dalam keluargaku. Kau toh tidak tahu, walau kami tidak komunikatif, tapi kami saling memahami sifat masing-masing.
Standar tiap keluarga berbeda, dan kau tidak bisa menafikkan itu.
Sama seperti kau tak memahami standar-ku, aku pun tak memahami standar-mu. Aku tidak bisa memahami bagaimana orangtuamu masih mengatur anak-anaknya -yang sudah berkeluarga, dan punya bahtera sendiri.
Sama seperti kau, yang takkan paham mengapa aku dan adikku, tidak pernah saling terbuka tentang keluarga masing-masing, karena kami menganggap itu adalah urusan pribadi kami.
Standar kita, dua keluarga dari kota yang sama, sudah berbeda. Tapi apa aku menghakimi-mu? Tidak.
Menghakimi standar tradisi:
sama dengan ketika kau merasa aneh karena aku berbicara dengan orang tuaku seperti aku bicara dengan temanku.
Sama dengan ketika aku mengerenyit tidak setuju mendengar kau mengatakan koen sedang kau menganggap itu lumrah adanya.
Sama dengan orang yang melihat tato di tubuh orang lain lalu berpikir orang itu pasti anak nakal.
Sama dengan ketika orang melihat perempuan yang merokok kemudian mengira dia perempuan murahan yang akan menjajakan tubuhnya ke mana-mana.
Sama dengan anggaran rasial yang berpikir setiap negro pasti penjahat.
Aku menyebutnya dangkal, itu menghakimi, itu tidak adil, itu prasangka, itu bagian dari rasialisme.
Rasialisme seorang jawa yang begitu bangga dengan jawanya sehingga tak melihat indahnya suku lainnya.
My god....
Bahkan rasialisme seorang laki-laki yang begitu bangga dengan lingkungannya hingga melecehkan cara hidup orang lainnya.
Begitukah?
Kau benar dan orang lain salah? Kau sopan dan orang lain tidak?
Begitukah? You don't know me at all......
24 November 2008
Child Abuse
Aku baru saja menamatkan sastu dari trilogy buku Dave Pelzer. Sudah lama aku melihatnya setiap kali ke Gramedia, tapi baru kali ini bisa menyisihkan sedikit uang untuk membelinya. Seperti kata pengantarnya, jack canfield, yang mengatakan ia tidak bisa meletakkan bukunya sebelum selesai, sama halnya dengan aku. Saat ini emosiku masih hanyut di arus buku itu, merasakan sedih sekaligus kemarahan yang intens.
Buat yang belum pernah baca, buku ini kisah nyata, bercerita tentang penyiksaan anak oleh ibu kandungnya sendiri, bahasanya begitu gambling sampai sampai membuat jantung rasanya melambat.
Aku mengenang masa laluku sendiri,… dan mengoreksi ulang seluruh perbuatanku sebagai orang tua. Rasanya dianggap wajar, jika orangtua memukul anak dalam ‘alasan’ hukuman untuk kebaikan. Aku sendiri sering. Aku pernah dipukul dengan sapu, pernah digetok dengan gayung, pernah ditubruk dengan motor (walau tidak dengan kecepatan tinggi) waktu aku ketahuan mau minggat dari rumah. Tapi tidak se-ekstrim si kecil Dave di buku yang baru kubaca ini. Jika perlakuan orang tuaku saja membekaskan luka seperti itu buatku, bagaimana dengan anak yang mengalami lebih dari itu?
The sad thing is, rasa rasanya aku mengulang kembali siklus itu. Aku merasa berhak memukul si kecil jika menurutku dia salah. Aku merasa berhak berkata kasar padanya jika aku merasa dia mengganggu. Aku merasa berhak menghukum dia dan merasa orang lain tidak berhak menegurku karena ini anakku.
I love my daughter. I do.
Bagaimana caranya memutus siklus ini dan menjadikanku a better mom?
15 November 2008
Alkohol Trunken part 3
Waktu menyadari 1 hal: kebiasaan minumnya bukan tanggung jawabku, aku memutuskan ini...
Aku tidak ingin menjadi mamaku, yang merasa bertanggung jawab menghentikan kebiasaan papaku untuk minum-minum, dan malah dimanipulasi karena rasa tanggung jawabnya itu. Dari mulai menikah, dimadu, dibiarkan jadi tulang punggung keluarga. Diambil manisnya dibuang asam, hambar dan pahitnya.
Aku tidak punya tanggung jawab apa pun untuk hal ini dan sama sekali tidak sudi untuk disalahkan. Aku terlalu berharga untuk jadi kambing hitam.
Jika dia punya tekad kuat untuk lepas dari alkohol, maka tugaskulah, sebagai istri, makhluk Tuhan dan makhluk sosial, untuk memberinya sebanyak mungkin dukungan.
Tapi jika dia mau tetap seperti ini, well, it's his own decision. I'll stay 'till I figure out another decision for my life.
Alkohol Trunken part 2
Yang pasti, sudah beberapa waktu ini aku menyadari satu hal: aku tidak pantas disalahkan atas 'kenapa dia minum' dan aku sama sekali bukan penyebab dia minum.
Dia minum karena dia lebih nyaman begitu. Dia minum karena -apa ya istilahnya- problem solvingnya tidak bagus. Dan toh sebetulnya dia minum dalam segala kondisi, dan mencari pembenaran untuk semuanya.
Dia minum di hari kami menikah, di hari anaknya lahir, saat lebaran, saat ulang tahun, saat mau berpisah dengan teman2nya, saat bertengkar denganku, saat kehilangan pekerjaan, saat dan banyak saat lainnya.
